Kedua, teknik retorika tersebut menunjukkan bahwa, bertahun-tahun sebelum Chairil Anwar, Alisjahbana sang penyair Pujangga Baru telah secara sadar menggunakan diksi ‘aku’ secara berulang-ulang untuk mengolah tujuan estetika yang diinginkannya dalam menjelajahi potensi bunyi dan makna dari morfem bebas {aku} tersebut. Puisi “Malu Aku Jadi Orang Indonesia” merupakan karya sastra yang sangat berpengaruh dalam dunia sastra Indonesia. Dalam puisi ini, Chairil Anwar dengan tajam mengkritisi kondisi bangsanya pada masa penjajahan. Ia ingin menginspirasi orang-orang Indonesia untuk mencintai dan memperjuangkan bangsanya secara aktif. TAK SEPADAN – CHAIRIL ANWAR. Aku kira: Beginilah nanti jadinya Kau kawin, beranak dan berbahagia Sedang aku mengembara serupa Ahasveros. Dikutuk-sumpahi Eros Aku merangkaki dinding buta Tak satu juga pintu terbuka. Jadi baik juga kita padami Unggunan api ini Karena kau tidak ‘kan apa-apa Aku terpanggang tinggal rangka. Chairil Anwar Puisi-puisinya diapresiasi banyak kalangan, diajarkan para guru, dan anak-anak sekolah membacakannya dalam berbagai ajang lomba baca puisi. Cuplikan puisi Chairil Anwar: “Aku ini binatang jalang! Aku ingin hidup 1000 tahun lagi! Sekali berarti, sudah itu mati!” kini menjadi jargon anak-anak muda atau siapa pun juga. Puisi ini menggambarkan perasaan haru sang penyair terhadap sosok Isa yang menjadi Tuhan bagi umat nasrani. Hal tersebut terlihat jelas pada kata “mengucur darah” pada baris ke-2 dan ke-3 diulang dua kali oleh penyair, selain itu pada akhir puisi bait ini juga ditulis kembali. REJn4f.

makna puisi chairil anwar aku